Manado, 2 Oktober 2018

Momentum Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day) 2018 menjadi pengingat bagi para pencinta binatang peliharaan agar terhindar dari risiko kematian.

"Rabies adalah penyakit paling mematikan di dunia dengan tingkat kematian 99,9 persen setelah gejala klinis muncul," terang Kasubdit Zoonosis Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (P2TVZ) Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI dr. Endang Burni Prasetyowati, M.Kes. dalam Temu Media Blogger Kesehatan 2018 bertema Berbagi Pesan di Media Sosial untuk Manado Bebas Rabies di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Selama periode 2011 hingga 2017, ada lebih 500.000 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang dilaporkan di Indonesia dan sebanyak 836 kasus positif rabies. Kawasan Asia dan Afrika menjadi kontributor terbesar kasus rabies hingga mencapai 95 persen.

Bahkan kematian akibat rabies pada manusia mencapai 100 orang per tahun, yang sebagian besar menimpa anak-anak. Sedangkan di dunia, rabies merenggut 55.000 jiwa manusia per tahunnya. Alasan tersebut yang membuat Kemenkes memfokuskan sosialisasi ke daerah-daerah dengan prevalensi tinggi rabies, seperti di Kota Manado dan di Kabupaten Minahasa pada 3 Oktober 2018 besok.

"Tanggal 28 September diperingati sebagai Hari Rabies Sedunia bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terutama yang memiliki hewan peliharaan agar lebih bisa menjaga kesehatan hewan peliharaan," ujar Endang memaparkan.

Ia tak segan berbagi ilmu cara penularan rabies kepada manusia maupun hewan lainnya. Yang pertama melalui luka gigitan, jilatan pada kulit yang lecet, selaput lendir mulut, hidung, mata, anus, dan genitalia.

Kedua, penularan dari orang ke orang (langsung) mungkin dapat terjadi melaui saliva atau air liur penderita rabies. Selanjutnya bisa melalui transplantasi kornea mata. Sementara, imbuh Endang, mengurangi risiko gigitan binatang, perawatan hewan peliharaan, terakhir adalah vaksinasi untuk hewan dan manusia menjadi langkah pencegahan utama rabies.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Sulut dr. Steven Dandel, MPH yang menjadi penanggung jawab puncak Hari Rabies Sedunia menjelaskan, sosialisasi atau penyuluhan di 15 kabupaten/kota penting dilakukan. Selain menggugah kerja lintas sektoral, perlu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk upaya pencegahan.

"Sejak 1995, Indonesia tak pernah dinyatakan bebas rabies. Per tahun ditemukan 1.500 terpapar rabies," ungkap Steven.

Kondisi di Sulut sendiri memerlihatkan terdapat sekira 230.000 ekor anjing. Namun, yang divaksin hanya 73.000 per tahun sehingga risiko gigitan anjing dengan rabies patut diwaspadai.

Bahkan Steven mengibaratkan akumulasi angka rabies laksana kompetisi raihan medali. Misalnya, tahun 2016 Sulut mendapat "medali emas" di tingkat nasional karena ditemukan 36 orang meninggal per tahun. Sebagian besar kasus ditemukan di Minahasa Selatan.

Menilik hal tersebut, maka puncak acara Hari Rabies Sedunia bakal dipusatkan di Benteng Moraya Minahasa dengan tema "Berbagi pesan untuk menyelamatkan jiwa". Momen ini pun melibatkan kerjasama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Dalam Negeri, dan Kemenko PMK. Kerja lintas sektoral ini diharapkan dapat mencapai target Bebas Rabies pada tahun 2020 di seluruh Indonesia.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.