RSBM
an image
1. APA ITU DIABETES DAN APA PENYEBABNYA ?
Diabetes atau yang oleh orang awam dikenal dengan kencing manis merupakan suatu isu besar masalah kesehatan di dunia. Berdasar perkumpulan diabetes dunia, 6,4% populasi dewasa di dunia hidup dengan diabetes. Departemen Kesehatan kita melaporkan bahwa lebih dari 57% penduduk indonesia yang berusia ≥ 40 tahun menderita diabetes, dan 10,2% populasi penduduk perkotaan mengalami gangguan toleransi glukosa. Diprediksikan penderita diabetes dewasa akan meningkat dari 6,9 juta di tahun 2010 menjadi 12 juta pada tahun 2025. Yang mengkhawatirkan adalah bahwa dari jumlah tersebut separuhnya belum terdiagnosis karena biasanya mereka menyadari menderita diabetes setelah mengalami komplikasi lanjut. Diabetes sendiri merupakan penyebab kematian ke lima di indonesia.

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu keadaan yang disebabkan berkurang atau tidak efektifnya hormon insulin, ditandai dengan kadar gula darah tinggi (hiperglikemi) yang terjadi dalam jangka waktu lama (kronik), gangguan metabolisme dan biasanya disertai komplikasi yang mengenai pembuluh darah, mata, ginjal atau saraf.

Diabetes Melitus dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu
DM tipe 1 yang disebabkan kerusakan sel beta pankreas akibat proses autoimun (kekebalan tubuh diri sendiri yang menyerang sel tubuh sel)

DM tipe 2 yang disebabkan ketidakefektifan insulin yang dihasilkan pankreas. DM tipe 2 ini biasanya dimulai dengan ketidakefektifan kerja hormon insulin di hati dan otot, dimana insulin yang seharusnya bertugas memasukkan gula dari darah ke dalam sel ternyata tidak bisa sehingga gula tetap beredar di dalam darah. Pada keadaan ini, sel beta pankreas yang menghasilkan insulin akan memproduksi lebih banyak lagi insulin untuk mengkompensasi ketidakefektifan kerja insulin yang terjadi.

Sel beta pankreas akan memproduksi lebih dan lebih banyak lagi hingga pada suatu saat sel beta tersebut kelelahan dan produksi insulinnya menurun. Saat itulah gula darah akan terus naik hingga suatu saat ketika orang tersebut memeriksakan dirinya ke dokter atau memeriksa gula darahnya sendiri ke laboratorium, disadari sudah menderita diabetes.
Diagnosis DM ditegakkan bila didapatkan kadar gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dL disertai gejala klasik hiperglikemi berupa sering merasa lapar (polifagi), sering merasa haus (polidipsi) dan buang air kecil yang banyak (poliuri) atau kadar gula darah puasa ≥ 126 atau kadar gula darah 2 jam sesudah test toleransi glukosa oral ≥ 200 mg/dl.

2. MENGAPA KITA HARUS WASPADA DAN PERLU TAHU TENTANG DIABETES ?

Diabetes lama yang tidak terkontrol dengan baik akan menimbulkan komplikasi berupa kelainan jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), kebutaan, gagal ginjal tahap akhir, dan juga amputasi karena pembusukan luka. Hal ini selain akan menimbulkan biaya perawatan yang besar juga akan menurunkan kualitas hidup penyandang diabetes. Diabetes juga meningkatkan risiko terjadinya kanker, gangguan jiwa, penurunan kognitif, penyakit hati kronis, peradangan sendi dan gangguan lain yang dapat bersifat fatal. Suatu sumber mengatakan 75% pasien dengan diabetes tipe 2 akan meninggal karena sakit jantung dan 15% karena stroke. Oleh karena itu kita harus mengenal penyakit ini dengan lebih baik, waspada bila kita mempunyai faktor risiko untuk menderita DM dan mengatasi DM dengan optimal agar tidak terjadi komplikasi lanjut.

3. SIAPA YANG BERISIKO TERKENA DIABETES ?

Setiap orang baik laki laki maupun perempuan berisiko terkena diabetes. Pemeriksaan untuk diagnosis DM perlu dilakukan pada individu dewasa yang tidak bergejala tetapi memiliki satu atau lebih faktor risiko seperti ketidakaktifan secara fisik ( pada individu dengan pekerjaan yang banyak duduk, malas olahraga ), riwayat keluarga dekat menderita DM, wanita yang melahirkan bayi dengan berat > 4 kg, atau didiagnosis DM pada kehamilan, penderita hipertensi/ darah tinggi (tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau dalam pengobatan darah tinggi ), kadar kolesterol HDL < 35 mg/dL dan atau kadar trigliserid > 250 mg/dL, wanita dengan penyakit PCOS ( polycystic ovary syndrome ), pada pemeriksaan darah sebelumnya didapatkan A1C ≥ 5,7% atau disimpulkan menderita intoleransi glukosa, kegemukan, riwayat keluarga dengan penyakit jantung dan pembuluh darah. Bila tidak didapatkan faktor risiko diatas, pemeriksaan untuk DM perlu dilakukan mulai umur 45 tahun, jika hasil normal, perlu dilakukan pemeriksaan ulang setiap 3 tahun.

4. BAGAIMANA GEJALA PENDERITA DIABETES ?

Gejala klasik yang sering terjadi pada penderita DM adalah: (1)sering buang air kecil. Kadar gula yang tinggi juga terjadi pada air kencing, dimana merupakan sifat gula yang menarik air sehingga kandung kencing cepat penuh, mengakibatkan sering buang air kecil,
(2)sering merasa haus karena air yang terus menerus dikeluarkan melalui kencing,
(3)sering merasa lapar, gula yang tidak dapat masuk ke sel mengakibatkan rasa lapar pada penderita. Hal ini mengakibatkan penderita diabetes cenderung untuk makan padahal kebanyakan makan akan semakin meningkatkan kadar gula darah.
(4)Lemah, lesu dan cepat capek. Hal ini terjadi karena glukosa atau gula tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga, yang kemudian mengakibatkan tubuh mengambil cadangan lemak dan otot untuk menghasilkan tenaga. Hal inilah yang mengakibatkan gejala
(5) penurunan berat badan.

Gejala lain yang terjadi adalah akibat komplikasi lanjut dari penyakit ini seperti :
*gangguan penglihatan,
*sering kesemutan terutama pada kaki,
*gangguan ereksi,
*sering gatal pada vagina,
*keputihan,
*mudah sakit karena mudah terjadi infeksi,
*gejala sakit jantung seperti nyeri dada.

5. BAGAIMANA PENCEGAHANNYA ?

Pencegahan dapat dilakukan dengan mengontrol jumlah makanan sehari - hari, dan konsumsi makanan sehat dan seimbang. Berikutnya adalah olahraga teratur. Latihan jasmani dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas insulin sehingga memperbaiki kadar glukosa darah. Jaga berat tubuh ideal. Tubuh gemuk memiliki risiko 10-30 kali lebih besar terkena diabetes daripada pemilik tubuh ideal. Pemeriksaan rutin untuk mengetahui kadar gula darah setelah usia 45 tahun pada individu yang tidak memiliki factor risiko.

6. BAGAIMANA PENGOBATANNYA ?

Diperlukan pengetahuan yang cukup tentang penyakit ini oleh penderita dan keluarganya untuk memperlambat terjadinya komplikasi. Hal ini penting karena inti dari pengobatan adalah perencanaan makan, olah raga dan obat.
Perencanaan makan
Sebetulnya tidak ada makanan khusus yang harus dihindari karena semua makanan pada dasarnya diperlukan oleh tubuh manusia. Hanya saja jumlahnya yang harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Penyandang diabetes memerlukan kalori sesuai keadaan indivIdu masing - masing yang ditentukan berdasar umur, berat badan, tinggi badan, aktivitas tubuh dan gangguan metabolisme yang ada. Standar makanan yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi: karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, dan lemak 20-25% dari total kalori. Jumlah kandungan kolesterol disarankan kurang dari 300mg/hari dan kandungan serat memenuhi setidaknya 25gram/hari. Penderita dengan tubuh gemuk harus mengurangi kalori untuk menurunkan berat badan. Pilih jenis karbohidrat kompleks seperti kentang, ubi, nasi, dan lain lain. Karbohidrat simpleks seperti gula dan madu tetap boleh dikonsumsi dengan jumlah tidak lebih dari 4 sendok. Sebaiknya memilih gula alternative yang tidak mengandung kalori seperti sakarin atau aspartame. Batasi asuapan garam 1 sdt/hari. Tidak kalah penting adalah pedoman waktu makan setiap 3 jam sekali dalam sehari, berupa 3 kali makan besar dan 3 kali makanan selingan diantaranya.
Olahraga
Olahraga atau latihan jasmani disesuaikan dengan umur dan kemampuan jasmani, dengan intensitas ringan dan sedang, setidaknya dilakukan dalam 3-5x/minggu selama 30-60 menit. Tipe olahraga yang dianjurkan adalah jalan, bersepeda, jogging dan berenang.
Obat
Jenis obat yang diberikan akan dipertimbangkan oleh dokter berdasar kondisi yang dialami penyandang diabetes. Pada prinsipnya obat - obat yang diberikan akan berfungsi untuk meningkatkan sekresi insulin di pancreas, peningkatkan pengambilan gula di jaringan lemak dan otot, meningkatkan penyerapan gula di usus atau menurunkan produksi gula hati.
Pencegahan Komplikasi
Upaya pencegahan komplikasi dilakukan dengan mengendalikan factor risiko lain yang ada, seperti : penurunan tekanan darah < 130/80 mmHg, penurunan kadar trigliserid < 150 mg/dL, penurunan kadar kolesterol LDL ( kolesterol jahat ) < 100mg/dl dan peningkatan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) >40 mg/dl. Selain hal tersebut diatas, perlu juga dilakukan pencegahan terjadinya luka terutama di kaki karena komplikasi DM dengan perawatan kaki. Perawatan kaki dilakukan dengan cara: periksa kaki setiap hari, bersihkan kaki waktu mandi dengan air bersih dan sabun, gosok kaki dengan sikat lunak dan keringkan dengan handuk, berikan pelembab di daerah kaki yang kering, Gunting kuku mengikuti bentuk normal kuku , jangan terlalu dekat kulit, kikir agar tidak tajam. Memakai alas kaki meskipun di dalam rumah. Gunakan sepatu atau sandal sesuai dengan ukuran dan enak dipakai.