RSBM

APA ITU SIROSIS HATI?
  
Sirosis hati adalah penyakit umum kronis hati, yang disebabkan oleh kerusakan pada organ hati.Menurut statistik yang dilaporkan ke WHO dari 55 negara. Setiap tahunnya jumlah orang yang meninggal karena sirosis hati kira-kira melebihi 310.000 orang.
Kematian dari sirosis hati menduduki nomor 5 didunia, setelah kanker, penyakit jantung, penyakit serebrovaskular dan kecelakaan.85% kasus penyakit ini terlihat pada pasien usia 21-50 tahun,dengan rasio laki-laki dan perempuan 4-8: 1,dan lebih menonjol ke pria paruh baya.
Tindakan yang biasanya di lakukan untuk pasien dengan serosis hati yaitu pada ruang khusus perawatan isolasi kemudian dengan Penatalaksanaan pada klien Sirosis Hepatis didasarkan pada gejala yang ada ( Menurut Brunner and Suddarth 1999 dan Soeparman 1996 )
1.Medis
a.Antasid :Untuk mengurangi distres lambung dan meminimalkan perdarahan gastroentestinal.
b.Vitamin & Suplemen nutrisi : Akan meningkatkan kesembuhan pada sel-sel hati yang rusak dan memperbaiki status gizi klien.
c.Preparat diuretik : Mempertahankan kalium(spironolaktum) untuk mengurangi ascites.
d.Preparat anti inflemasi ( Colchicine ) : Untuk mengobati gejala out.
e.Untuk pendarahan esofagus pemberian cairan dekstrose atau salin.Bila Hb dibawah 9 gr % dan transfusi darah secukupnya. Vasopresin 2 amp 0.1 gr dalam D5 % selama 4 jam.
f.Pada klien esophalopati koreksi faktor pencetus seperti pemberian KCL pada hipokalemia, mengurangi protein berikan DH I. Aspirasi cairan pada lambung yang mengalami pendarahan pada varises esopagus, dilakukan klisma untuk mengurangi absorpsi bahan nitrogen dan pemberian dhipalae 2x2 sendok makan. Pemberian neomisin peroral dan untuk sterilisasi usus dan pemberian antibiotik (Ampisilin atau Sefalosporin ).
g.Paracentesis : tergantung kondisi klien ( sesak nafas ) karena cairan asites mengandung albumin.
h.Diuretik : aldosteron, lasix.
2.Keperawatan
a.Mendukung istirahat dan kenyamanan
b.Mendukung asupan nutrisi dengan pemasangan NGT
c.Mencegah infeksi
d.Mencegah perdarahan
e.Menganjurkan klien untuk menghentikan penggunaan alkohol, obat-obatan dan merokok.

Dalam hal pengkajian pada klien dengan sirosis hepatis menurut doengoes 1999 dengan mengkaji pada :
1.Aktifitas / latihan
Kelemahan, kelelahan, terlalu lelah, letergi, penurunan masa otot / tonus.
2.Sirkulasi
Riwayat gagal ginjal kronik, perikarditis, penyakit jantung reumatik kanker (Malfungsi hati menimbulkan gagal hati )Disritmia,distensi vena abdomen.
3.Eliminasi
Flatus, distensi abdomen (Hepatomegali, splenomegali, asites, Penurunan bising usus feces warna tanah liat, melena, urine gelap, pekat.
4.Makanan / cairan
Anorexia,tidak toleran terhadap makanan / tak dapat mencerna, mual / muntah penurunan berat badan atau peningkatan cairan, edema, kulit kering, turgor buruk, ikterik, nafas berbau keton / Feor hepatikus.
5.Nyeri / kenyamanan
Nyeri tekan abdomen / nyeri kuadran kanan atas, pruritus, neuritis perifer, perilaku hati-hati, pokus pada diri sendiri.
6.Pernafasan
Dispnea, takipnea, pernafasan dangkal, bunyi nafas tambahan, ekspansi paru terbatas,hipoksia
7.Keamanan
Pruritus, demam (Lebih umum pada Sirosis alkoholik) ikterik, ikimosis petikie,angioma spider .
8.Penyuluhan / pembelajaran
Riwayat penggunaan alkohol jangka panjang / empedu, hepatitis terpajan pada toksin ,trauma hati, perdrahan GI atas, episode perdarahan varises esopagus, penggunaan obat yang mempengaruhi fungsi hati.

Setelah diagnosa keperawatan ditemukan, dilanjutkan dengan perencanaan dan evaluasi untuk setiap diagnosa keperawatan :
DX 1: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat sekunder terhadap Anorexia
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria evaluasi : 1) Bertambah berat badan, 2) Melaporkan peningkatan selera makan
3) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi lebih lanjut, 4) Turut serta dalam upaya memelihara oral hygiene, 5) Nilai laboratorium dalam batas normal.
Perencanaan : 1) Timbang berat badan, 2) Berilut sering dan sebelum makan, 4) Awasi periksaan kan makan sedikit tapi sering, 3) Berikan perawatan mulaboratorium,
5) Konsul ahli diet,
DX 2 : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang berlebihan
Tujuan : Menunjukan volume cairan yang stabil.
Kriteria evaluasi : 1) Memperlihatkan peningkatan keluaran urine, (2 Memperlihatkan pengecilan lingkar perut, (3 Tanda –tanda vital dalam batas normal, 4) Tidak ada edema/bengkak
5) Mengikuti diit rendah natrium dan pembatasan cairan
Perencanaan: 1) Awasi tanda tanda vital, 2) Ukur lingkar abdomen/perut, 3) Dorong untuk tirah baring bila ada asites
DX 3 : Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan asites
Tujuan : Mempertahankan integritas kulit.
Kriteria evaluasi : 1) Memperlihatkan turgor kulit normal pada ekstremitas, 2) Tidak ada luka dikulit, 3) Tidak ada edema dan tidak ada perubahan warna kulit
Perencanaan : 1) Ubah posisi dengan sering dan latihan rentang gerak pasif / aktif, 2) Tinggikan ekstremitas.

DX 4 : Resiko tinggi terhadap take efektif pola pernafasan berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
Tujuan : Pola pernafasan efektif
Kriteria evaluasi : 1) Tidak edema, 2) nilai GDA dalam batas normal, 3) Tanda-tanda vital dalam batas normal, 4) Tidak ada sianosis.
Perencanaan : ) Pertahankan kepala tempat tidur tinggi, 2) Ubah posisi dengan sering
3) Selidiki perubahan tingkat kesadaran, 4) Berikan oksigen tambahan.

DX 5 : Kurang pengetahuan (Kebutuhan belajar )tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
Tujuan : Klien dan keluarga klien memahami melalui diskusi yang interaktif.
Kriteria evaluasi : 1) Menyatakan pemahaman proses penyakit, 2) Menghubungkan dengan gejala dengan factor penyebab, 3) Melakukan perubahan pola hidup dan partisifasi dalam perawatan.
Perencanaan : 1) Diskusikan pembahasan natrium, 2) Tekankan pentingnya nutrisi yang baik, 3.) Berikan diit tertulis, 4) Instruksikan orang terdekat untuk memberitahu pemberi perawatan akan adanya bingung, tidak rapi, tidur berjalan, 5) Tekankan pentingnya menghindari alkohol.

Evaluasi menurut Patricia A. Potter (2005 )
Langkah-langkah evaluasi dari proses keperawatan mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan klien kearah tujuan . Tujuan asuhan keperawatan untuk membantu klien menyelesaikan masalah kesehatan aktual, mencegah kekambuhan dari masalah potensial