Talks Show Ramai Istilah Superflu: Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
TribunHealth.com menggandeng RS Brayat Minulya Surakarta, adakan edukasi kesehatan lewat Podcast Talks Show “Ramai Istilah Superflu: Apa Bedanya dengan Flu Biasa?” Edukasi kesehatan ini di wartakan TribunHealth.com pada Minggu, (1/2/2026) dengan judul Apa Maksud Istilah Superflu yang Banyak Dibahas Akhir-akhir Ini? Selain itu edukasi Kesehatan tentang Superflu dapat disimak di YouTube Healthy Talk: Ramai Istilah Superflu, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
Hadir di Tribun Network Klodran, Colomadu, Karanganyar, Kamis (29/1/2026) dr. Ova Rachmawati, Sp.PD, FINASIM dari RS Brayat Minulya Surakarta, menjawab berbagai pertanyaan Melia Istighfaroh jurnalis TribunHealth.com seputar Superflu yang sekarang ini baru viral.
Superflu bukan istilah medis yang resmi. Gejala yang muncul bagi penderita Superflu diantaranya sesak nafas dan detak jantung lebih cepat. Penularan Superflu lebih cepat dibandingkan flu biasa.
Jika flu biasa penularan terjadi pada 3 sampai 5 hari dan penularan hanya pada satu orang, namun super flu penularan terjadi pada 3 sampai 4 orang dalam waktu cepat.
Superflu memiliki gejala yang lebih berat dari flu biasa. Superflu merupakan flu yang sifatnya berlangsung secara cepat. Flu ini meningkat pada musim dingin.
Istilah Superflu berasal dari Influenza A(H3N2) subclade. Ini sebenarnya virus yang sudah lama. Subclade ada mutasi. Superflu bukan istilah medis yang resmi. Meskipun ada ”super” nya yang mungkin membuat ”wah” tetapi sebenarnya flu biasa”.
Penyebab Superflu
Superflu disebabkan oleh infeksi virus H3N2. Virus ini sebenarnya sudah lama. Virus ini mengalami mutasi. Mutasi terjadi karena faktor cuaca dan perilaku penderita atau pasien sendiri (perilaku mengkonsumsi obat yang kurang tepat, faktor lingkungan misalnya polusi udara dan kebiasaan merokok).
Beda Flu Biasa dan Superflu
Flu biasa : Penderita mengalami pilek, batuk kering atau dahak. Diantara penderita ada yang mengalami nyeri tenggorokan, hidung tersumbat nafsu makan menurun, disertai pusing dan nyeri kepala. Selain itu nyeri otot dan demam ringan.
Superflu: Penderita mengalami demam (38-39 derajat), batuk dahak dan sesak napas. Nyeri otot yang lebih nyeri sekali.
Tanda yang membedakan flu berat dan flu biasa. Gejala demam tinggi, nafsu makan menurun. Penderita penyakit Superflu mengalami sesak nafas dan detak jantung lebih cepat, disebabkan lelah dan nyeri kepala. Diantara penderita Superflu terdapat penderita yang susah tidur.
Superflu dapat menyerang seseorang yang stress, kelelahan dan kurang tidur.
Rentan mengalami Superflu
Kelompok berisiko mengalami Superflu : Usia lanjut diatas 60 tahun. Kelompok anak-anak dan ibu hamil. Kelompok masyarakat yang mengalami kondisi khusus seperti diabetes, gangguan ginjal, atau penyakit autoimun. Dalam hal mengurangi resiko Superflu, vaksin influenza membantu menekan resiko penularan superflu.
Pencegahan terhadap Superflu
Pencegahan dapat dilakukan melalui pemberian vaksin influenza dan mengupayakan pola hidup yang sehat. Pola hidup sehat diantaranya tidur yang cukup, asupan makan yang cukup mengandung sayuran, protein dan buah. Selain itu minum yang cukup dan melakukan olah raga rutin,
Kesalahan umum masyarakat saat mengalami flu
Dokter Ova Rachmawati, Sp.PD, FINASIM menyampaikan tentang kesalahan yang sering terjadi yang dilakukuan pasien yaitu meminum obat anti biotik yang tidak tepat penggunaannya. Antibiotik sebaiknya diminum sepengetahuan dokter sesuai dengan indikasi.
Tidak perlu ”request” atau tersugesti dengan penggunaan antibiotik sebab infeksi virus membutuhkan waktu penyembuhan untuk membaik. Obat diberikan secara ”simptomatis” sesuai keluhan pasien. Namun pasien juga perlu memahami waktu yang diperlukan untuk melakukan observasi penyakit yang dilakukan oleh dokter.
Melawan mitos atau kesimpang siuran tentang superflu
Mitos atau ”kesimpang siuran” yang berkembang di tengah masyarakat superflu harus ditangani dengan anti biotik. Lalu ada yang mengatakan Superflu sama dengan covid. Mitos atau kesimpang-siuran tersebut tidak benar, sehingga perlu diwaspadai dan tidak perlu terlalu cemas atau takut. Tubuh perlu rileks dan istirahat yang cukup untuk mengurangi kecemasan.
Tips dari dr. Ova Rachmawati, Sp.PD, FINASIM dalam situasi di sekitar ada penderita Superflu : ”Jangan stress karena stress bisa memicu segala infeksi dan segala penyakit.
Mengurangi stress bisa dilakukan dengan mengurangi ”scrolling sosial media” dan melakukan olah raga secara teratur”. (JP)